Teori Dua Kaki Keadilan sebagai Rekonstruksi Keseimbangan Kekuasaan dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia

Authors

Keywords:

Sistem Peradilan Pidana, Advokat, Teori Dua Kaki Keadilan, Lex Imperfecta, Reformasi KUHAP

Abstract

Ketimpangan posisi advokat dalam sistem peradilan pidana Indonesia semakin nyata di tengah dominasi aparat negara yang tak terkendali dan keberadaan norma lex imperfecta yang melemahkan jaminan hak prosedural tersangka. Artikel ini memperkenalkan Teori Dua Kaki Keadilan, suatu kerangka normatif dan konseptual yang memosisikan advokat sebagai penyeimbang institusional atas kewenangan koersif negara. Melalui analisis struktural, tulisan ini mengidentifikasi tiga perangkat utama: hak akses penuh, mekanisme keberatan praperadilan yang diperluas, dan pre-trial review elektronik; serta mengusulkan reformasi kelembagaan untuk menutup celah prosedural yang selama ini dibiarkan terbuka. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembaruan norma-norma kunci dan penguatan sistem manajemen perkara digital terpadu sangat penting untuk menjamin pengawasan waktu nyata, transparansi, dan kepastian hukum tanpa mengorbankan efisiensi. Pada akhirnya, memperkuat peran advokat bukanlah beban administratif, melainkan keharusan konstitusional, rem darurat yang menjaga prinsip due process dan mengarahkan sistem peradilan pidana Indonesia menuju masa depan yang lebih seimbang, akuntabel, dan berkeadilan.

References

Amostian, Yusriyadi, & Silviana, A. (2023). Reformasi Polri melalui Penguatan Fungsi dan Kewenangan Komisi Kepolisan Nasional dalam Melakukan Pengawasan Eksternal terhadap Polri. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 5(3), 510–522. https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jphi/article/view/18030

Anwar, S., Bushway, S., & Engberg, J. (2023). The impact of defense counsel at bail hearings. Science Advances, 9(18), 1–11. https://doi.org/10.1126/SCIADV.ADE3909

Boudin, C., & Fish, E. S. (2025). Defense lawyers and the separation of powers. Wake Forest Law Review, (Forthcoming), 1–50. https://doi.org/10.2139/ssrn.5198358

Butar Butar, H. F. (2020). Studi kejahatan dalam perspektif posmodernisme. Journal of Correctional Issues, 3(1), 1–15. https://doi.org/10.52472/jci.v3i1.41

Crespo, A. M. (2020). Probable cause pluralism. Yale Law Journal, 129(5), 1276–1391. https://doi.org/10.2139/ssrn.3342902

Daratu, J. S., & Hadjar, A. F. (2024). Putusan Tindak Pidana Narkotika yang Diputus di luar Dari Dakwaan Penuntut Umum. Jurnal Reformasi Hukum Trisakti, 6(1), 140–150. https://doi.org/10.25105/refor.v6i1.19091

Dechepy-tellier, J. (2024). The public prosecutor’s office in the French legal system. DPCE Online, 62(1), 311–355. https://doi.org/10.57660/dpceonline.2024.2082

Djufri, H. D. (2019). Theoretical Study in Human Rights Perspective on the Private Private Vocational School of Understanding in the Dimension of Evidence in the Criminal Justice Process in Indonesia. Journal of Law, Policy and Globalization (Vol. 88, Issue 2). https://doi.org/10.7176/JLPG/88-07

Epps, D. (2021). Checks and Balances in the Criminal Law. Vanderbilt Law Review, 74(1), 1–84. Available at: https://scholarship.law.vanderbilt.edu/vlr/vol74/iss1/1

Hasibuan, M. N. P., & Prasetyo, M. H. (2022). Kedudukan Advokat Dalam Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia The Position Of Advocacy In The Criminal Justice System In Indonesia. Jurnal Ius Constituendum, 7(1), 159–176. https://doi.org/10.26623/jic.v7i1.4629

Herman, K. M. S., Yudhistira, D., Maksum, U., & Azis, M. (2025). Jurnal Retentum Penguatan Kewenangan Advokat Dalam Penegakan Hukum Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003. Jurnal Retentum, 7(1), 463–474. https://doi.org/10.46930/retentum.v7i1.5387

Hikmawati, Putri. (2013). Eksistensi Hakim Komisaris dalam Sistem Peradilan Pidana (Analisis terhadap RUU tentang Hukum Acara Pidana). Jurnal Kajian, 18(1), 1-163. https://doi.org/10.22212/kajian.v18i1.470

Horgos, L. (2021). Thoughts about the Definition of Ius Puniendi in Legal Theory. Belügyi Szemle, 69(1. ksz.), 9–19. https://doi.org/10.38146/bsz.spec.2021.1.1

Jung, S., Petrick, C., Schiller, E. M., & Münster, L. (2021). Developments in German Criminal Law: The Urgent Issues Regarding Prolonged Pre-Trial Detention in Germany. German Law Journal, 22(2), 303–314. https://doi.org/10.1017/glj.2021.7

Kelly, L. M. (2023). Judging Youth Time. The Supreme Court Law Review: Osgoode’s Annual Constitutional Cases Conference, 108(5), 85–107. https://doi.org/10.60082/2563-8505.1436

Kripsiaji, D., & Minarno, N. B. (2022). Perluasan Kewenangan dan Penegakan Hukum Praperadilan di Indonesia dan Belanda. Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum, 10(1), 29– 56. https://doi.org/10.14421/al-mazaahib.v10i1.2573

Kurniawan, Z., Wahyudi, I., & Tisnanta, H. S. (2020). The Right Non Self-Incrimination and Epistemology of Criminal Witnesses. Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum, 14(4), 363–380. https://doi.org/10.25041/fiatjustisia.v14no4.1988

Le, L. C., Hoang, Y. H., Bui, H. T., Nguyen, D. Q., Mai, S. T., & Luong, H. T. (2023). Wrongful convictions in asian countries: A systematic literature review. International Journal ofComparative and Applied Criminal Justice, 48(4), 345–362. https://doi.org/10.1080/01924036.2023.2188235

Mahmud, M. (2019). Penerapan Sanksi Pidana Anak Menurut Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak. Indonesian Journal of Criminal Law, 1(2), 128–138. https://doi.org/10.31960/ijocl.v1i2.381

Merino-Sancho, V. (2021). A cartography of critical legal theories: notes for a reflection on the relation between law and power. Age of Human Rights Journal, 16(16), 242–262. https://doi.org/10.17561/tahrj.v16.6040

Novita, R. (2024). Kedudukan Advokat Mendampingi Tersangka dalam Proses. JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum, 6(2), 306–313. https://doi.org/10.31289/juncto.v6i2.5399

Patria, E. P. N. (2022). Mewujudkan Sistem Peradilan Pidana Yang Fair Bagi Penyandang Disabilitas. Mimbar Keadilan, 15(1), 109–121. https://doi.org/10.30996/mk.v15i1.6068

Sanusi, U., & Hadinatha, M. F. (2023). Activating Unconstitutional Norms in Law: An Analysis of the Principle of Checks and Balances. Jurnal Konstitusi, 20(2), 300–317. https://doi.org/10.31078/jk2027

Sari, I. (2018). Konstitusi Sebagai Tolak Ukur Eksistensi Negara Hukum Modern. Jurnal Ilmiah Hukum Dirgantara, 9(1), 40–60. https://doi.org/10.35968/jh.v9i1.297

Satria, H. (2018). Restorative Justice: Paradigma Baru Peradilan Pidana. Jurnal Media Hukum, 25(1), 111–123. https://doi.org/10.18196/jmh.2018.0107.111-123

Siregar, N. O. (2019). Plea Bargaining dalam Sistem Peradilan Pidana di Beberapa Negara. Wajah Hukum, 3(1), 1–9. https://doi.org/10.33087/wjh.v3i1.46

Slee, G. (2023). Of the State, against the State: Public Defenders, Street-Level Bureaucracy, and Discretion in Criminal Court. Social Service Review, 97(4), 675–718. https://doi.org/10.1086/726528

Teremetskyi, V. I., Bandurka, S. S., Korniienko, M. V, Dniprov, O. S., Slobodenіuk, I. V, Albul, S. V, & Riabchenko, Y. Y. (2024). Peculiarities of Judicial Control During Pre-Trial Investigation. Journal of Ecohumanism, 3(8), 7375–7384. https://doi.org/10.62754/joe.v3i8.5368

Upara, A. R., & Roem, A. M. (2023). Menguak Peran dan Tantangan Advokat dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia: Suatu Kajian Praktis. UNES Law Review, 6(2), 6892–6902. https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i2

Hidayat, A., Pujiono, & Sugiarto, L. (2019). The Ideal Relationship between Legal Knowledge and Actual Legal Actions in Indonesia. 2nd International Conference on Indonesian Legal Studies (ICILS), 363(Icils), 3–8. https://doi.org/10.2991/icils-19.2019.8

Qurniawan, A., Murdian, & Anggraini. (2021). Strengthening the Function of Prejudicial Institutions and the Implementation Concept of the Judges Institution of Commissioners in the Protection of Suspects Rights. Proceedings of the Universitas Lampung International Conference on Social Sciences (ULICoSS 2021), 628, 150–157. https://doi.org/10.2991/assehr.k.220102.018

Fahmi B, M. L. (2023). Peran Pos Bantuan Hukum Dalam Memberikan Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Yang Tidak Mampu. Universitas Islam Sultan Agung.

Pandiangan, L. (2024). Rekonstruksi regulasi kewenangan advokat dalam sistem peradilan pidana berbasis nilai keadilan restoratif. Universitas Islam Sultan Agung.

Ismanto, N. (2015). Dekonstruksi Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia (Menggagas Advokat Sebagai Sub- Sistem Dalam Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia). Universitas Islam Indonesia.

Noerdin, E. S. (2025). Lex Imperfecta dalam KUHAP: Implikasi Pasal 143 Ayat (4) pada Hak Positif Tersangka. Madza Media.

Hiariej, E. O. S. (2015). Beberapa Catatan RUU KUHAP Dalam Hubungannya Dengan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Retrieved from https://shorturl.at/1WdXO

Lovina, & Dirga, S. (2022). Judicial Scrutiny melalui Hakim Pemeriksa Pendahuluan dalam RKUHAP. Retrieved from. https://icjr.or.id/wp-content/uploads/2022/10/Judicial- Scrutiny-melalui-Hakim-Pemeriksa-Pendahuluan-dalam-RKUHAP.pdf

DPR RI. (2025). Rancangan Undang Undang Republik Indonesia tentang Hukum Acara Pidana.

Komisi III DPR RI. (2025). Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Hukum Acara Pidana.

Downloads

Published

2025-11-21

How to Cite

Noerdin, E. S. . (2025). Teori Dua Kaki Keadilan sebagai Rekonstruksi Keseimbangan Kekuasaan dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia. JURIST ACADEMIA, 1(2), 48-59. https://ojs.ylbhbmr.or.id/index.php/ja/article/view/6